Puisi tentang Alam Lengkap (Contoh Puisi bertema Alam)

Puisi tentang alam merupakan karya sastra yang bertemakan alam yang dibuat oleh seseorang untuk menyampaikan pesan lewat diksi dan pola tertulis. Berikut ini merupakan contoh-contoh puisi yang bertemakan tentang alam.

Puisi tentang alam dan contohnya lengkap
Puisi tentang alam dan contohnya lengkap

Puisi tentang alam berjudul “Teratai”

Teratai
Sanusi Pane

Kepada Ki Ajar Dewantara
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi lembah indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun bersemi laksmi mengarang
Biarpun ia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia

Teruslah, O Teratai Bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biar sedikit penjaga taman

Biarpun engkau tidak terlihat
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau pun turut menjaga zaman.

Dari Jassin, Pujangga Baru Prosa dan Puisi

Puisi tentang alam berjudul “Baturaden”

Di Baturaden
jika di dahan pohon raksasa ini
digantung sangkar besar
di dalamnya aku
bertengger di anggar
bertakbir
berzikir
merangkai tasbih
hapus sedih
di Baturaden
udara sejuk
sepi khusuk
di batang pohon raksasa ini
jangan menabur kembang telon
di pangkalnya
lantaran bukan
rumah setan
kalaupun nyepi
cuma menangkap
sepi
di Baturaden
angin mengembara
menghapus jelaga jiwa
Oleh: Piek Ardijanto Soeprijadi

Puisi tentang alam oleh Bernadeth “aya” Nasrani

Mentari tajam menyentuh
Menjemput kalbu berpasrah mengeluh
Desah-resah-gelisah terengkuh
Luka mengoyak-rasa pun terbunuh

Mentari membelai angkuh
Sapanya lukiskan kemenangan gaduh
Sorak tawa terderai bergemuruh
Mengiris perih jiwa mengaduh

Mentari enggan menjauh
Memaksa bumi makin melepuh
Lara sanubari tak jua sembuh
Erang hati pilu menyeluruh

Puisi tentang alam berjudul “Kita dan Sketsa Senja Karya Dhani Fuadilah”

Kita buat sketsa senja
Sebagai hadiah perpisahan
Meski terlihat redup.
Namun di foto itu
Ombak dan angin laut tetap ceria
Bersama pakaian yang masih basah juga
Pasir dan air garam

Kita buat sketsa senja
Sebagai hadiah perpisahan
Meski terlihat redup.
Namun di foto itu
Ombak dan angin laut tetap ceria
Bersama pakaian yang masih basah juga
Pasir dan air garam

Esok, kita patahkan sebatang cerah pagi
Untuk penerang malam gelap
Karena lampu sudah semakin mahal
Dan nyalanyapun makin redup
Sementara bintang teramat jauh

Jadikan sebuah tilas
Pada bunga dan buah, serta ucapkan
Terima kasih untuk lebah-lebah
Di taman yang mengajarkan kita
Memetik matahari kala terbit
Dan menata indah lembayung
Sumber: Pendhapa, 1 Februari 2006

Puisi bertemakan alam berjudul “Laut” oleh Amal Hamzah

Berdiri aku di tepi pantai
Memandang lepas ke tengah laut
Ombak pulang memecah berderai
Keribaan pasir rindu berpaut

Ombak datang bergulung-gulung
Balik lagi ke tengah segara
Aku takjub berdiri termangu
Beginilah rupanya permainan masa

Hatiku juga seperti dia
Bergelombang-gelombang memecah pantai
Arus suka beralih duka
Payah mendapat perasaan damai

Dikutip dari Bimbingan Apresiasi Puisi, 1974

Puisi tentang alam berjudul “Mentari” karya S. Nadrotul Ain

Hai mentari pagi
Hari ini kau datang tampak cerah sekali
Engkau datang tiap hari
Untuk sumber energi pribumi
Semua orang berlari pagi
Untuk menyehatkan diri
Tanpa kau, hai mentari
Di seluruh bumi ini
kan mati tiada lagi.

Puisi tentang alam dengan judul “Gembala” oleh Muhammad Yamin

Perasaan siapa tidak ‘kan nyala
Melihat anak berlagu dendang
Seorang raja di tengah padang
Tiada berbaju buka kepala

Beginilah nasib anak gembala
Berteduh di bawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kadang
Pulang ke rumah di senja kala

Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunga serunai
Melagukan alam nan molek permai

Wahai gembala di segara hijau
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau
Maulah aku menurutkan dikau

Puisi berjudul “Tanah Kelahiran” oleh Ramadhan K.H

Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang Tangkuban perahu

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.

Membelit tangga di tanah merah
di kenal gadis-gadis dari bukit.
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.

Puisi bertema alam “Sajak Anak Petani” Karya Agus R. Sarjono

Selepas musim penghujan kupandangi saja para petani
dan bapakku yang begitu asyik memanen kesedihan
di antara butir-butir padi yang tak pernah cukup
untuk menumbuhkan anak-anaknya mekar berbunga
di ladang nasib dan di hari depan
Maka aku pun duduk-duduk saja mencangkungi derita
dan impianku sendiri setelah letih bercocok tanam harapan
di bangku-bangku sekolah berdebu dan sunyi
dari kehidupan. Selepas musim penghujan
Sebagaimana selepas musim hujan, aku termangu
seperti bapak-bapakku memandangi langit
terbentang indah seperti pipi nasib
yang lebam membiru

Sumber: Apresiasi Puisi, 2003

Puisi berjudul “Tembang Nelayan” oleh Eka Budijanta

Maka ia pun berjalan, berlayar
Membawa kepalanya yang kecil ke lautan
Di sana sudah menunggu
Berbagai duka dan kegembiraan
Orang kecil, berabad-abad tetap kecil
Menunggu, menderita dan mengail
Kalau ia terluka ditatapnya pasir
Atau berbagai rasi bintang yang terpencil
Di langit, di pantai orang-orang kecil
Meletakkan hati-hati kecil
Mereka tak suka kenangan
Dan tak banyak angan-angan
Hari ini adalah hari bagi orang kecil
Meresapi embun, menunggu fajar
Bersama matanya yang kecil, tangannya yang kecil
Mulutnya yang kecil dan kepalanya yang kecil

Sumber: Apresiasi Puisi, 2003

Puisi dengan judul “Pangandaran” oleh Dodong Djiwapradja ini juga bertemakan alam

Kutegur wajahku
Yakinlah: ini bukan lukisan Nashar
Perlu bergerak
berlayar
Mengabur tepi-damailah kegaduhan
Angin pun lewat – berdesir
Dan sepi atas pasir
Pantai
Laut
Ombak
Cagaralam
Inilah Pangandaran
Siapa berani berenang
Sampai Cijulang?
Debur ombakmu-mengamuklah sepi
Jejak-jejak kaki yang basah
Telah lama musnah

Sumber: Apresiasi Puisi, 2003

Puisi bertema alam dengan judul “Samudra” Karya Kevin Andi Pratama

Menatapi ombak yang bergulung-gulung
Bagai berkejaran
Sejauh mata memandang
seperti tak berbatas
Burung-burung beterbangan
Kapal-kapal dengan layar terkembang
Terlihat di samudra yang luas
Alam ternyata sangat indah
Sumber kehidupan
semua itu ciptaan-Nya
yang harus kami jaga

Sumber: Kompas Anak, 6 April 2008

Puisi berjudul “Rinduku pada Hutan” Oleh: Evelyn R.A.

Rinduku pada Hutan
Menghirup udaranya
Memandang Rimbunya
Hijau Daunnya
Sepinya
Rinduku pada hutan
Menginjak rumputnya
Embunnya
Rinduku pada hutan
Mendengar kicau burungnya
Teriakan sang kera
Auman harimau
Kegesitan kijang
Atau ular yang melata
Rinduku pada hutan
Rindunya kehidupan

Puisi dengan judul “Paman-paman Tani Utun” Karya: Piek Ardiyanto Supriyadi

paman-paman tani utun
ingatlah
musim kemarau padi kering
aduh senangnya

musim panen sudah tiba ya paman
pesta kerja di tengah sawah kepanasan
padi digendong Minah, dipikul Sardi
sayangnya tidak dibawa ke lumbung sendiri

Puisi tentang alam berjudul “Langit diatas Taman”

Matahari bersinar putih kemilau
Angin bertiup lembut
Hijau rerumputan tertimpa cahaya
Butir-butir bening embun bersinar indah
Bunga-bunga mekar menyapa
Kupu-kupu menari di atas ranting
Seekor anak lebah mengajak aku meniti pagi
Pagi nan indah mengajak bercanda
meraih kemilau hari
Di atas taman ini,
langit indah berenda rakhmad Illahi

Puisi tentang alam berjudul “Bunga Mawar” Karya: Mutia Rizki Dania

Bunga mawar….
Kau sangat indah
Warnamu merah
Lambang keberanian
Bunga mawar ….
Kau memiliki mahkota
Yang sangat indah
Dan durimu sangat tajam
Bunga mawar
Aku ingin memeliharamu
Karena kau memiliki duri yang tajam
Yang akan melindungi diri sendiri

(Sumber: Bobo, edisi 40, Tahun XXXI, 8 Januari 2004, hlm. 11)

Puisi tentang alam dengan judul Tanah Kelahiran

Ramadhan K.H.
Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohonan pina
tembang menggema di dua kaki,
Burangrang – Tangkubanprahu.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun.
Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.
Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di hati gadis menurun.

Puisi tentang alam berjudul “Hujan Bulan Juni” Karya: Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Puisi pendek dengan judul “Bunglon”

Ah, sungguh puas berwarnama aneka
Gampang menyamar mudah menjelma
Asalkan diri menurut suasana
Oh Tuhanku, biarkan daku hidup sengsara
Biar lahirku diancam derita
Tidak daku sudi serupa

Puisi bertema keindahan alam berjudul “Lagu Gadis Itali”

Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Jika musim tiba nanti
Jemput abang di teluk Nopoli.
Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Sedari abang lalu pergi
Adik rindu setiap hari.
Kerling danau di pagi hari
Lonceng gereja bukit Itali
Andai abang tak kembali
Adik menunggu sampai mati.
Batu tandus di kebun anggur
Pasir teduh di bawah nyiur
Abang lenyap hatiku hancur
Mengejar bayang di salju gugur.

Sumber: Belajar Berpuisi, 2003

Puisi tentang alam berjudul “Ganasnya Ombak Tak Selalu Membuat Luka” karya: Franky/Hare

Adik marilah kemari lihat perahu telah menunggu
Jangan kau termangu lagi mari bersama melepas tali
Mataharipun telah bangun dari tidurnya
Dan bangunlah bersihkan debu yang melekat di sekitar kita Luka lamamu,
Janganlah kau turunkan layar hatimu
Ganasnya samudra
Dengan perahu kita pecah ombaknya
Janganlah kau takut
Untuk selamanya, samudra adalah samudra
Ganasnya ombak tak selalu membuat luka
Dan bangunlah bersihkan
Debu yang melekat
Sekitar luka lamamu
Janganlah kau turunkan layar hatimu

Puisi bertema alam dengan judul “Desaku”

Di jembatan ini kedengar bisik sejarah
Aku tak tahu, siang ini manakah yang lebih berkobar
mataharikah atau darahku
yang menderaskan makna air sungai
sebelum tiba di gerbang muara?
Selamat datang, tamu dari kota!
Jangan terkejut menjabat tanganku kasar
lantaran setiap hari mengolah zaman
Nanti sore kuantar engkau ke kebun
Nikmatilah buah-buahan yang ranum bersama mimpiku
Inilah sawahku, daunan kungkung sedang menghijau
Kecebong dan lele mondar mandir
di sela semanggi dan batang padi
Di sini kupetik sejuta kasih sayang, dan kutaburkan
ke mana bulan ’ngusapkan tangan
Seekor bangau hinggap di punggung kerbau
seakan mengajar kita dengan hakikat persahabatan
Kalau nanti hasil panen kuantar ke kota
yang kuminta padamu bukan tanda penghargaan
Namun setangkai bunga putih pengertian
Dari jembatan ini kulihat rahmat yang bermekaran
keemasan di hamparan tanah sejarah
Kulecut betis sukmaku
Disambut gemuruh di ubun mega;
Senyum hari depan yang huragu

Rogojampi 1967

Puisi tentang alam “Ritus Hujan” Karya Mustofa Aldo

Mungkin hujan itulah yang dianggap
di bukit mimpi di mana kelak kujemput
bayang-bayangmu yang berselendang
pelangi. lambai-lambai bendera membuang
rindu kecakrawala. bulan rebah angin lelah
dan hujan pun memetik harpa
berlagu di ranjang-ranjang nyanyian
setelah memaksa capung-capung
mengibaskan bulu-bulunya.

(Sumber: Kakilangit Sastra Pelajar)

Puisi tantang alam “Tembang Senja” Karya Mustofa Aldo

Angin senja alangkah ramah
merintis tembang ke padang rohani
tempat lahir sajak-sajakku
burung-burung yang tengah berhinggapan
mengerami rahasia pantai lalu, kulihat kemesraan
ikan-ikan dengan insang kemerah-merahan
mengecup bibir pantai berpasir.
(Sumber: Kakilangit Sastra Pelajar)

Puisi bertema alam dengan judul “Masih Tersisa” Karya: Taufiq Abi Sabda

Masih tersisa
tanah permai udara nan sejuk
pagi yang berkerlip embun di hamparan kehijauan
dan senja pantai berkerudungkan lembayung
di antara tangis terpendam
dan duka yang timbul tenggelam

Masih tersisa
rindu kedamaian dan hasrat cinta
sumpah sesaudara, ikrar seduka dan cita
seikat dalam hati, sejiwa dalam asa
di antara sayatan tikai yang amat tajam
dan lelahnya menitikkan darah dendam

Nun jauh dalam hutan dan sisa ladang
tonggak-tonggak tunas tiasa kukuh tegak
menjadi tiang harap
penyangga lara pada puji dan doa
di antara berjuta juta batang yang terus bertumbang
dan lalu bermigrasi entah ke mana

Nun bentang di balik hamparan ombak
terumbu menari-nari, eksotik dan mesra
letik-letik ikan menggelayut berpaut jala
menebar senandung hidup dan rasa
di antara liarnya pukat dan riak
yang menjelma dalam hitungan-hitungan angka

Masih tersisa
untuk selalu kita jaga

Puisi tentang alam “Kemarau” Karya: Suryani

Kau datang dan pergi setiap tahun
Panasmu menyengat tubuh
Kau hancurkan
Bungaku yang sedang mekar

Kau biarkan
Semua binatang merintih
Seakan kau tak mau
Mendengar rintihan-rintihan mereka

Kuharap, kau mau mengerti
Aku ingin, melihat kembali
Bungaku bermekaran
Pengganti bungaku yang telah kau
Hancurkan

Puisi bertema alam “Bunga Flamboyanku” Karya: Sherly Malinton

Awan jingga bersembunyi di balik pelangi
matahari tersenyum sendu menyelinap
di balik
semak rimbun
angin tiba membelai taman
mengelus mekarnya bunga flamboyanku

Senja berkesan terhalang kabut malam
bulan sabit tersenyum manis
menebar bintang di langit
mewangi harummu, bunga flamboyanku

Fajar cerah menyambut
gerimis hujan jadi lebat
kasihan engkau, flamboyanku
hujan dan angin, kejam
telah merenggut indahmu dari tangkainya
sehingga layu dan gugur ke tanah.

Puisi alam “Sungai” Oleh: Sanusi Pane

Waktu masih muda dewasa,
Nyala gembira masih dikandung,
Sungai mengalir gagah perkasa,
Gegap gempita di celah gunung.

Sampai di bawah di tanah datar,
Ia berjalan lambat-lambat,
Telah lebar sekarang dasar,
Megah hati terhambat-hambat.

Makin lama aliran langlai,
Bertambah lembut jadi secara,
Sehingga tenang dalam muara,
Gagah perkasa diganti damai,
Ke dalam laut masuk sekarang,
Sebagai burung masuk ke sarang.

Baca juga: Contoh puisi cinta lengkap

Related Post to Puisi tentang Alam Lengkap (Contoh Puisi bertema Alam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *